logo

.
Thursday 24th of April 2014    

Content on this page requires a newer version of Adobe Flash Player.

Get Adobe Flash player

Powered By therelax.com

Kata Bijakku Hari Ini...


Biopori PDF Cetak E-mail

Lubang Resapan Biopori

Mencegah Kekeringan Air


Pembuatan lubang biopori di halaman perkantoran Pemerintah Kota Bengkulu


Untuk mencegah terjadinya kekeringan air di Kota Bengkulu, banyak hal bisa dilakukan. Seperti memanfaatkan air hujan dengan membuat kolam resapan, pembuatan sumur resapan dan lubang resapan biopori. ”Untuk yang mudah, murah dan efektif adalah dengan pembuatan lubang resapan bipori”. ujar Kepala BLH Kota Bengkulu pada admin beberapa waktu yang lalu.

 


Jika lubang resapan biopori dibuat dengan jumlah yang signifikan dapat meningkatkan kuantitas air bawah tanah dan juga simpanan air bawah tanah serta mengurangi potensi banjir.

Berbagai permasalahan lingkungan seperti banjir, kekeringan, sampah dan lainnya banyak mengancam kehidupan masyarakat saat ini. Ketiganya ibarat “lingkaran setan” yang senantiasa mengancam kehidupan manusia abad ini. Namun upaya mengantisipasi kerap menemui jalan buntu. Padahal, ketiga permasalahan itu bisa dipecahkan dalam satu rangkaian kegiatan, yakni memperbanyak lubang resapan biopori.

Prinsip lubang resapan biopori adalah pembentukan lubang di rongga tanah oleh organisme tanah, seperti cacing, rayap, dan semut. Lubang itu kelak terisi oksigen sebagai media air mengalir ke dalam tanah. Cara itu sangat efektif dan mudah diterapkan di daerah mana pun, tak terkecuali di kawasan perkotaan dengan sebagian besar permukaan tanah telah diaspal atau beton. Cara itu lebih mudah dan murah ketimbang membuat sumur resapan yang memerlukan banyak biaya dan ruang lebih luas.

Pembuatan lubang resapan biopori cukup dengan melubangi tanah secara vertikal dengan alat (seharga sekitar Rp 200.000) sedalam kira-kira 1 m dengan diameter sekitar 10 cm. Lubang diisi rumput, sampah organik rumah tangga, bibit cacing, dan semacamnya untuk menciptakan organisme hidup yang kelak menghasilkan pori-pori di dalam tanah. Makin banyak bahan organik dimasukkan kian tinggi aktivitas organik yang dihasilkan, sehingga air yang meresap pun kian banyak.

Sejauh ini penerapan lubang resapan biopori belum maksimal. Padahal, dari segi mekanisme, pembuatan lubang resapan biopori sangat mudah dan murah. Lubang resapan biopori sangat cocok di permukiman kota yang relatif minim daerah resapan; penyebab utama bencana banjir. Andai lubang resapan biopori bisa diterapkan secara optimal dan massal, niscaya persoalan banjir, kekeringan, dan sampah (organik) dapat terpecahkan dengan “satu tepukan tangan”.

Yang mengkhawatirkan, kini daerah resapan makin minim karena kebanyakan berubah menjadi lahan permukiman dan bisnis. Tak pelak, risiko banjir makin sulit dihindari. Apalagi ditambah dampak buruk pemanasan global; salah satu akibatnya musim kemarau lebih panjang yang menyebabkan ancaman kekeringan berkepanjangan.

 

 

Tiga Manfaat

Sekali lagi, dengan lubang resapan biopori, masalah banjir, kekeringan, dan sampah bisa diuraikan dalam satu langkah sekaligus.

  1. Lubang resapan biopori dapat dijadikan pemecahan untuk mengatasi banjir di perkotaan yang berpenyebab utama keminiman daerah resapan. Makin banyak lubang resapan biopori kian banyak pula air meresap ke dalam tanah, sehingga tak menggenang di permukaan yang ujung-ujungnya jadi banjir.
  2. Lubang resapan biopori berfungsi sebagai cadangan air pada musim kemarau. Sebab, cadangan air dalam tanah sudah pada tahap kritis. Bahkan beberapa pemerintah daerah, misalnya Jakarta, Surabaya, Bandung, Yogyakarta, dan Semarang mengimbau masyarakat menghemat penggunaan air. Jika tidak, dalam jangka panjang barangkali makin sulit menemukan sumber air bersih. Keberadaan lubang resapan biopori akan agak melegakan karena cadangan air tanah sudah terisi pada musim hujan.
  3. Lubang resapan biopori dapat meminimalkan kuota sampah organik yang semestinya dibuang ke tempat pembuangan akhir. Sampah organik menempati urutan tertinggi (75% lebih) dari total sampah. Padahal, jika di sekitar permukiman banyak lubang resapan biopori, sampah organik rumah tangga bisa dibuang ke tempat itu. Hal itu tentu sangat menguntungkan. Selain menghemat, lubang resapan biopori juga dapat mencegah tempat pembuangan akhir sampah tak lekas penuh.

Kelestarian alam lingkungan sekitar bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan seluruh elemen masyarakat. Karena itu, penting meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai kebersamaan menjaga keseimbangan alam. Alam raya sejatinya bukan untuk kita, melainkan titipan bagi anak cucu. Karena itu, jangan wariskan kerusakan alam akibat keegoisan kita yang enggan merawat anugerah Tuhan. Jadi, mari, perbanyak lubang resapan biopori di lingkungan kita.

 

Berdasarkan KTT Bumi di Rio de Janeiro bahwa alokasi lahan untuk Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebesar 30 %.  Beberapa kebijakan tata ruang kota yang tidak berwawasan lingkungan menyebabkan berubahnya RTH menjadi pemukiman, kawasan industri, bisnis dan kawasan lainnya. Hilangnya vegetasi penutup permukaan tanah menjadi bangunan, beton, aspal dan sistim drinase kota yang buruk menyebabkan menurunnya daya serap air.  Sistim drainase kota yang buruk dan tersumbat oleh banyaknya sampah mengakibatkan air hujan menggenangi jalan raya dan membanjiri perumahan penduduk.

 

Pencemaran udara telah memicu Global Warming (Pemanasan Global) yang menyebabkan terjadinya perubahan iklim, gejala el nino dan la nina. Perioda hujan menjadi lebih singkat dengan intensitas tinggi, sedangkan periode kering lebih lama.Hal tersebut menyebabkan air yang tersedia menjadi lebih singkat dan periode krisis air lebih panjang. Akibatnya pada tahun 2012 banyak daerah akan mengalami krisis air baku, bahkan beberapa daerah persediaan air tanahnya dinyatakan kritis seperti Kota Bandung dan lain-lain. Bahkan di kawasan Bandung bagian timur orang-orang menggunakan air comberan untuk keperluan sehari-hari. Saat ini kebutuhan air yang tersedia hanya 40 liter/orang/hari padahal tingkat kenyamanan minimal terkait ketersediaan air adalah 200 liter/orang/hari.

 

Masalah Sampah

Dengan bertambahnya penduduk menyebabkan meningkatnya volume sampah. Berdasarkan zat kimia yang dikandungnya, sampah dikelompokkan menjadi sampah anorganik dan sampah organik. Sampah anorganik adalah sampah yang umumnya tidak dapat membusuk misalnya logam, gelas, plastik. Sampah organik adalah jenis sampah yang dapat membusuk misalnya sisa-sisa makanan, daun-daunan dan buah-buahan. Sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat mengakibatkan bencana longsor.

 

Lubang Resapan Biopri (LRB) sebagai Solusi

Air hujan bergerak meresap ke dalam tanah melalui pori tanah besar (pori besar). Biopori adalah lubang – lubang di dalam tanah yang terbentuk akibat berbagai aktifitas organisma di dalamnya, seperti cacing, perakaran tanaman, rayap dan fauna tanahlainnya. Lubang-lubang yang terbentuk akan terisi udara, dan akan menjadi tempat berlalunya air di dalam tanah.

 

Biopori tersebut dapat terbentuk dengan cara membuat lubang vertikal ke dalam tanah. Lubang lubang tersebut selanjutnya diisi dengan bahan organik, seperti sampah organik rumah tangga, daun, potongan rumput dsb. Bahan organik tersebut menjadi makanan organisma di dalam tanah sehingga aktifitas mereka akan meningkat . Dengan meningkatnya aktifitas organisma maka semakin banyak biopori yang terbentuk.

Kesinergisan antara lubang vertikal yang dibuat denganbiopori yang terbentuk akan memungkinkan lubang – lubang ini dimanfaatkan sebagai lubang peresapan artifisial yang relatif murah dan ramah lingkungan.

 

Teknik Pembuatan LRB

Pembuatan LRB mudah, murah dan tidak memerlukan waktu yang lama. Harga satu Bor LRB sekitar Rp 200 ribu dan bisa digunakan oleh banyak orang . Beberapa peralatan yang dibutuhkan sebagai berikut : bor tanah, ember, gayung, bambu dan pipa PVC.

 

Tahapan pembuatan LRB sebagai berikut :

  1. Siram dengan segayung air bagian tanah yang akan dibor supaya lunak.
  2. Posisikan mata bor pada permukaan tanah dan tegakkan tangkai bor vertikal.
  3. Putar setang bor ke arah kanan (searah jarum jam) sambil menekan bor ke dalam tanah.
  4. Setelah bor masuk sedalam 20 cm atau setelah mata bor penuh tanah, tarik bor keluar memutar sesuai arah jarum jam supaya tanah di dinding lubang tidak melekat pada mata bor.
  5. Keluarkan tanah dalam mata bor dengan menggunakan sepotong kayu.
  6. Lanjutkan kembali pemboran. Setiap kali mata bor penuh terisi tanah angkat kembali bor dan bersihkan. Jika tanah mulai mengeras masukkan lagi air. Begitu seterusnya hingga mencapai kedalaman 100 cm atau kurang bila permukaan air bawah tanahnya lebih dangkal dari 100 cm.
  7. Perkuat mulut lubang dengan adukan semen dan pasir berukuran lebar 2-3 cm dan tebal 2 cm di sekeliling mulut lubang atau masukkan pipa PVC sepanjang 10 cm di mulut LRB.

LRB Meningkatkan Bidang Resapan Seluas Dinding Lubang

Bila lubang dibuat dengan diameter 10 cm (radius = 5 cm) dan dalam 100 cm maka luas bidang resapan yang asalnya A1 = 3.14 x 5 x 5 = 78.5 cm2 bertambah sebesar A2 = 2 x 3.14 x 5 x 100 = 3140 cm2 menjadi 3218 cm2 atau hampir 1/3 m2. Dengan kata lain suatu permukaan tanah berbentuk lingkaran dengan diamater 10 cm, yang semula mempunyai bidang resapan 78.5 cm2 setelah dibuat lubang resapan biopori dengan kedalaman 100 cm, luas bidang resapannya menjadi 41 kali lipat yaitu 3218 cm2. Volume lubang
V = A1 x tinggi = 78.5 x 100 =7.850 cm3 (78,5 liter).

 

Jadi jelas bahwa LRB solusi sederhana dan murah yang dapat mencegah banjir , kekeringan dan bencana sampah . Mari kita selamatkan lingkungan sekarang juga. Ingatlah “Sumber daya alam yang kita nikmati hari ini bukanlah warisan dari nenek moyang, tetapi pinjaman dari anak dan cucu kita”.

 

Disadur dari berbagai sumber, baik blog, media elektronik, dan lain-lain.
 

Hallo BLH Kota Bengkulu

bottom

Dijalankan dengan Joomla!. Designed by: Free Joomla 1.5 Template, web hosting. Valid XHTML and CSS.