logo

.
Wednesday 22nd of October 2014    

Content on this page requires a newer version of Adobe Flash Player.

Get Adobe Flash player

Powered By therelax.com

Selintas gambar....

Jajak Pendapat

Menurut anda apakah Kota Bengkulu layak meraih piala ADIPURA saat ini?
 

Kata Bijakku Hari Ini...


DKI Bangun Pengolahan Limbah PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Ipunk   
Selasa, 09 Maret 2010 00:49

 

Sebesar 83 persen sungai dan 79 persen situ di DKI memiliki nilai Indeks Kualitas Air yang buruk.


JAKARTA -- Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan membangun lima zona pengolahan air limbah terpadu. Instalasi ini nantinya akan membantu penanganan air limbah di seluruh Jakarta dan menghentikan pencemaran air sungai.

Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, menyatakan, sebenarnya Ibu Kota telah memiliki pengolahan air limbah terpadu, yaitu Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Setiabudi, Jakarta Selatan, sejak 1991. ''Dulu ini adalah proyek percontohan, namun proyek ini tidak dilanjutkan,'' ujarnya, Sabtu (6/3). Lagi pula, IPAL tersebut hanya melayani penanganan limbah di cakupan daerah yang sempit.

Oleh karena itu, Pemprov DKI bekerja sama dengan Departemen Pekerjaan Umum (PU) akan mengerjakan proyek IPAL baru. Untuk tahap awal, Pemprov DKI dan Departemen PU, akan membangun IPAL di zona sentral untuk mengembangkan IPAL Setiabudi. Di zona sentral ini, akan dibangun pipa penyalur air limbah berdiameter 1,8 meter yang ditanam sepanjang kawasan Setiabudi dan jalan-jalan di Jakarta Pusat, menuju ke Gajah Mada-Hayam Wuruk, lalu terpusat ke Pluit.

Air limbah yang berasal dari rumah warga maupun industri yang terdapat di sepanjang jalur tersebut akan dialirkan dengan pipa ke tempat pengolahan limbah terpadu di Pluit atau Muara Angke. Air limbah tersebut akan diolah hingga mencapai kadar baku mutu. ''Kemudian, baru kami salurkan ke sungai dan waduk yang ada di sekitar pusat instalasi. Dengan begitu, air yang dibuang ke sungai tidak lagi tercemar,'' katanya.

Saat ini, 83 persen sungai dan 79 persen situ di DKI memiliki nilai Indeks Kualitas Air (IKA) yang buruk. Hal ini terjadi karena cemaran dari limbah domestik maupun industri. Limbah domestik dapat berupa buangan air rumah tangga, padatan berupa sampah yang dibuang ke sungai, serta air cucian kamar mandi maupun buangan tinja. Ini akan memengaruhi tingkat kandungan BOD, COD, serta bakteri E Coli dalam sungai. Sedangkan, limbah industri, baik yang bersifat organik maupun anorganik, juga akan memengaruhi kualitas air permukaan.

Proyek ini menelan biaya hingga Rp 3,8 triliun. ''Pendanaannya akan dilakukan dengan sistem cost sharing,'' ujar Fauzi. Menurutnya, pemerintah pusat berkewajiban mengeluarkan dana Rp 3,1 triliun dan sisanya sebesar Rp 700 miliar berasal dari APBD DKI Jakarta. Sedangkan, biaya pengelolaan dan pemeliharaan akan dibebankan pada Pemprov DKI.

Pengolahan air limbah terpadu akan melayani pembuangan limbah dari 700 ribu jiwa warga Jakarta. ''Volume limbah yang bisa diolah pada zona ini belum mencapai 10 persen,'' katanya.

Deputi Tata Ruang Pemprov DKI, Hariyadi, menyatakan, saat ini kajian terhadap proyek ini masih berlangsung dan diharapkan pada 2011 proyek tersebut bisa selesai. Selanjutnya, pada 2020 diharapkan sistem ini bisa mengelola sekitar 10 persen dari air limbah domestik dan industri warga Jakarta.

Target ini ditetapkan seiring dibangunnya zona pengolahan limbah lainnya di beberapa zona lagi. Zona tersebut adalah zona barat laut yang meliputi kawasan Mangga Besar, Gunung Sahari, Pademangan sampai Sunter, dan berakhir di Pluit atau Muara Angke. Kemudian, zona barat daya di sepanjang kawasan Palmerah, Slipi, dan Kebon Jeruk, juga berakhir di Jakarta Utara.

Lalu, proyek akan diteruskan hingga lima zona beres dibangun. Pemprov sendiri menargetkan pada 2030 air limbah di Jakarta sebesar 30 persennya bisa diolah dengan sistem pengolahan limbah tersebut. Jika memungkinkan, katanya, Pemprov DKI juga akan dapat mengolah air baku mutu itu menjadi air bersih yang bisa digunakan untuk kebutuhan warga sehari-hari. ''Itu akan dipikirkan selanjutnya,'' ujarnya.

 

Sumber : Republika, Senin, 08 Maret 2010

 

 

 

 

Hallo BLH Kota Bengkulu

Halaman Login



bottom

Dijalankan dengan Joomla!. Designed by: Free Joomla 1.5 Template, web hosting. Valid XHTML and CSS.